Bagaimana Iza menceritakannya. Bagaimana Iza bisa menggambarkan begitu tegar hati dan jiwanya.

“Kesepian” begitu kata yang terakhir ia simpulkan setelah beberapa menit berbincang dengannya. Akung, panggilan untuk seorang kakek yang sayang banget sama Iza waktu masih pertama kali tinggal di Jawa. Ia menarik nafas panjang. Ia dapat merasakan seperti ada lautan cinta yang meluber dimatanya. Ada sesuatu yang terkoyak dihatinya. Di rumah ini Akung ditemani Mbak Ida, Mbak Sarah, dan tante En. Tante En yang sering membuat Akung khawatir, karena sebentar lagi akan menikah, tapi belum juga pasti kapannya.

Mbak Ida dan Mbak Sarah yang pernah terlihat ngobrol bareng Akung, tapi juga tidak terlalu sering. Hmm…Iza sangat bisa merasakan bagaimana sepinya Akung sejak Yangti meninggal sekitar setahun yang lalu. Beliau jadi sering merasa sendiri.  Mumpung liburan dan bisa ketemu, Iza sering nemenin Akung, nganter kalau Akung pergi-pergi. Sering ngajak ngobrol.

“Andai aku bisa menjaganya di masa-masa tuanya…”ingin Iza dalam hati.

Sayangnya setelah liburan ini Iza sendiri harus segera menyelesaikan kuliahnya yang tinggal tahun terakhir. Iza pernah mendengar dari mamanya, Akung ingin ia kembali tinggal di rumah itu setelah selesai kuliah. Tante En juga sering menasehati Iza agar mencari kerja di daerah yang dekat dengan rumah. Tapi mama Iza sendiri menginginkan agar ia tinggal di Sampit saja.

Sound very complicated. . Iza hanya bisa berdiri di atas kebingungannya dalam menentukan pilihan. Keputusan tetap ada di tangannya, tapi keputusan mana yang paling baik untuknya itu yang masih ia bingungkan. Tentu hanya kepada Allah ia memohon pertolongan.

Saat duduk santai di kursi depan TV, Akung bercerita sekitar tiga bulan yang lalu ia mendapat beberapa jahitan di kepala, gara-gara pingsan pas jalan dan kepalanya membentur pinggiran pintu. Iza jelas terkejut, tak ada seorangpun yang pernah menceritakan tentang ini. Dulu, ia pernah mendengar Akung sakit tapi hanya bilang kalau akung pingsan dan di bawa ke rumah sakit. Itupun pas kondisinya sudah membaik.Mungkin mama tidak ingin membuatnya khawatir.

Mungkin akan perlu lebih banyak waktu lagi untuk mendengar cerita Akung, tapi sayangnya tepat seminggu setelah lebaran hari raya Iza harus kembali ke tempatnya mencari ilmu. Iza berencana ia akan pulang sebulan sekali untuk nengok Akung dan mbak-mbak yang ada di rumah itu. Kebetulan kegiatan di luar kuliah sudah mulai berkurang dan tentu ia berharap mudah-mudahan ada waktu yang cukup untuk menjalankan rencananya. .

Saat belum ada seminggu Iza kembali. Mama Iza menelpon tiga kali tapi sayang samasekali Iza gak sempet menerima telpon dari mamanya, karena pas ada jam kuliah. Saat malam, Iza menyempatkan sms mamanya dan menanyakan ada apa. Dan balasan dari mamanya ,”mbak Iza doakan akung…“.

Ada kesedihan yang tiba-tiba menyelimuti kamar Iza…

Ternyata dari kemarin malam, akung di rumah sakit untuk operasi. Kata dokter penyakitnya sudah parah. Pantesan Iza kemarin merasa gak enak, seperti ada sesuatu yang membuatnya menangis tanpa sebab. MasyaAllah, kemarin Iza gak dikabari, kan meski dia jauh tapi setidaknya ada do’a yang bisa ia ucap untuk kesembuhan akung..

Akung tidak pernah cerita tak pernah mengeluh, gak mungkin selama ini gak ada gejalanya. Tapi gak tau kenapa akung tidak pernah menceritakan keluhannya…. Sama sekali tidak. Begitu tegarnya akung menjalani hidupnya, setiap hari masih juga kerja. MasyaAllah, dengan badan yang masih segar bugar begini, Iza merasa gak pantes bila dirinya sering mengeluh atas masalah yang ia hadapi.

Begitulah Iza selalu berharap Allah memberi kesempatan untuknya agar ia  bisa membalas kebaikan Akung dengan caranya. Ia sudah cukup menyesal tidak mampu berbuat apapun untuk Yangti. Dan kini ia tak ingin menyesal lagi.

Dan juga untuk orang tuanya, semoga ia bisa menjadi penyejuk hati mereka. Amin.

(11:28 PM 9/23/2010)

About these ads