Sekarang bukan jamannya ngomong cinta-cintaan. Kata siapa? Buktinya masih banyak film yang ngomongin cinta. Cinta juga banyak jadi barang jualan sinetron di channel tv di seluruh dunia. Dari anak SD sampai anak kuliahan kalo ketemu temennya,pacarnya yang diomongin juga masalah cinta. Sampai-sampai tetanggaku penasaran dan bertanya,”Panganan opo to kuwi ?”(baca:makanan apa itu).

Fitrahnya manusia bila ia ingin selalu mendapatkan apa yang ia inginkan. Yang sekolah pada kepingin cepat lulus dengan nilai tertinggi di sekolahnya, yang kuliah pada ingin cepat wisuda dengan IP tertinggi di kampusnya, yang nganggur pengen cepet dapet kerja biar dapat banyak gaji, yang kerja selalu bermimpi untuk mendapatkan promosi dari perusahaannya agar cepet naik pangkat, yang masih sendiri pengen cepet dapat jodoh agar dapat segera menikah. Manusia itu buanyak pengennya, gak habis-habis. Habis pengen yang ini terus pengen yang itu, sudah dapet yang ini, pengen dapet yang itu. Gak cuman dalam karir aja, dalam masalah percintaan dan jodoh juga begitu. Lha wong jelas-jelas mati, rezeki, dan jodoh itu di tangan Tuhan. Kok nek nguber sampai mati. Katanya aja cinta mati, ada yang mati bunuh diri, sampai mati nyemplung kali (baca:masuk ke sungai).

Lupa ya, kalau cinta itu juga punya tingkatan-tingkatan. Nih tak ingetin lagi, tingkatan cinta itu :

1. Cinta kepada Allah dan jihad di jalan Allah, ini yang tertinggi tingkatannya.

2. Cinta kepada Rasululloh SAW. Jelas, Rasululloh kan teladan terbaik bagi kita.

3. Cinta kepada Orang tua.

4. Cnta kepada saudara sesama muslim,

5. Cinta kepada benda, seperi mobil, rumah, dsb.

Hayo kita lihat lagi cinta kita yang paling kuat sekarang untuk siapa? Jangan sampai bikin Allah cemburu lho, karena Allah memang lebih berhak mendapatkan cinta tertinggi dari makhluk ciptaanNya. Kalo gak cinta Allah, mau kemana kita? Mau kelaut? Enak aja, laut juga punya Allah. Pemahaman lagu-lagu buatan manusia kini banyak yang disalahartikan dan menyebabkan manusia lupa kepada Allah.

Suara-suara musik yang sia-sia itu juga lebih sering saingan dengan suara adzan yang tengah berkumandang tanpa ada usaha kita untuk mematikannya. Wah pasti setannya lagi seneng-seneng tuh. Coba kita perhatikan, bagian mana dalam hidup kita yang dilalui tanpa kuasa Allah yang turut campur sedikitpun. Hayo jujur, kalo bisa nyebutin, yang mana coba… Sebelum kita lahir aja, Allah sudah menyiapkan semuanya dengan teliti melibihi ketelitianmu menghitung integral yang bertingkat-tingkat. Sayang banget kan, Allah sama kita. Saking sayangnya, kita dijaga Allah siang malam. Cuman kita sering menganggap Allah gak ada, sehingga kita sering melupakanNya. Kita sering lupa bahwa cinta hanya untuk Allah dan seharusnya kita jangan sampai cinta kita pada yang lain melebihi cinta kita kepada Allah.

Nah, mumpung inget nih, mari kita benahi diri kita masing-masing. Kita istigfar sebanyak-banyaknya atas kekhilafan kita dan belajar untuk mulai mengungkapkan bahwa, “cintaku hanya untukmu ya Allah”.