Hujan tampak semakin deras
Tidak ada pilihan lain, kecuali berangkat
Saat aku berdiri di depan ruangan itu
Seorang wanita panik, pakaiannya basah,
Berlalu masuk kedalam, panik
Berkumpul dengan banyak orang,
Menangis.
Seseorang telah kaku membiru

Air mata kesedihan, tumbah dari segala arah
Darah, terlihat di lengan laki-laki yang lewat di depanku
dia bergegas keluar dari ruangan itu
Seorang laki-laki lain memegang kerahnya penuh amarah
sambil berkata,”Sudah saya bilang dari kemarin..”
sebuah pukulan berhasil mengenai wajahnya
ia pasrah,

Dari arah lain,
seorang perempuan menangis,
dipelukan seorang wanita tua, yang tegar.
Kesedihannya begitu mendalam
seorang anak kecil masih dipangkuannya,
bingung, tak paham.
siapa lagi yang telah Engkau ambil?

Ini potongan skenario Allah,
yang Dia nampakkan di depanku
Sebuah daun gugur, membuatku terasa layu, lemas
Sebuah skenario tak terduga
Kematian itu begitu dekat,
sedekat Jarakku dan malaikat, kemarin

kematian sebaik-baik pelajaran
Takut ya Allah,,,

Tak selang lama kemudian,
“Sabar ya, disebelahmu datang orang kecelakaan lagi”
Ruangan tiba-tiba dingin mencekam,
hanya tirai pemisah ruangan ini,
Suara roda tempat tidur pasien berhenti tepat di sebelah
korban seorang laki-laki, entah bagaimana keadaannya
seorang perempuan panik, “Ojo turu, mas…”
Turu? Artinya tidur? atau mati?
ya Allah, apakah malaikat itu akan datang lagi?
“Istigfar mas, istigfar”,teriak wanita itu lagi.
Suara laki-laki itu semakin keras
Sesekali terdengar jelas
“Aduuh, Aduuh, astagfirulloh”
Kudengar serpihan kaca melukai wajahnya
Kaki kanannya patah tulang

Aku meringkuk, tak bisa tidur,
Kepalaku semakin terasa berat,
Bagaimanapun aku,
Aku jauh, sangat jauh lebih baik, dari orang itu,
Tanganku tidak penuh luka,
Walau lemah, tapi tulangku masih bisa
menyokongku untuk berjalan pulang

Apapun kondisiku,
aku akan bersyukur kepadaMu
karena aku tau,
Aku jauh lebih baih, sangat jauh lebih baik
dari orang-orang lain diluar sana.

written by Rizka Fitri
Bandung, 17 Mei 2010