Ketika cinta suci menjelma, ia bisa menjadi energi tanpa batasan, selain terpisahnya nyawa dari jasad. Legenda Qais, yang bergelar majnun (gila), membuktikan.

Saat Qais jatuh cinta pada laila, terhalang orang tua bukan mundur. Demi mempertahankan cinta sampai berubah menjadi majnun. Pecinta yang tergila-gila hingga hidupnya berubah total.

Kenapa demikian…. Tentunya bila Qais menyerah, tak akan tercipta legenda besar yang kisahnya turun-temurun hingga saat and baca lembaran ini. Romeo dan Juliet pun, yang lahir belakangan, yang kisahnya ikut-ikutan juga tidak akan terjadi. Bisa saja imajinasinya tak sampai tanpa bayangan laila majnun.

Legenda kisah laila majnun sebenarnya hanya menunjukkan bagaimana sikap seorang pecinta sejati kepada kekasihnya. Mengabarkan betapa cinta yang suci tak mengenal lelah, lapar maupun dahaga. Energi cinta sejati terjaga kesuciannya. Tak pula pudar meski dinikahkan paksa dengan bangsawan yang sampai akhir hayat laila tak berhasil disentuh.

Tak sama dengan kisah remaja zaman ini yang ditipu sinetron, telenovela, gossip dan dalam pengawalan setan. Hingga Bapak dan Ibu zaman ini yang memiliki anak gadis tak tahu pasti adakah anaknya “benar-benar perawan suci” ataukah “penuh kudis yang terbungkus tebal kosmetik”.

**************

Adakah seorang anak yang menghitung berapa ton beras dan berapa ribu makanan yang telah dimasak oleh seorang ibu untuk anaknya. Berapa kilometer lantai telah disapu dan dipel oleh seorang ibu. Berapa banyak keheningan malam dilalui sang ibu dengan terjaga untuk anaknya.

Berapa kali kedua tangan sang ibu terangkat ketika berdoa, dan berapa gallon air mata mengalir ketika sujud mendoakan kebahagiaan dan keselamatan anaknya.

Ibu yang selama bertahun-tahun menjelma menjadi relawan, dokter sekaligus perawat tanpa bayaran untuk penyakit batuk, demam, flu, cacar, ataupun sekedar luka di kaki akibat terjatuhnya anak.

Coba ingat waktu kita kecil, yang dua tahun lamanya disusukan. Ditengah malam waktu tidur, lelah payah ibu tetap terjaga lantaran mendengar tangis. Bahkan ketika malam malam engkau demam, ia tahan mata dari tidur agar tidak terpejam dengan penuh kegelisahan dan kekhawatiran sampai fajar datang kembali.

Hingga ketika seorang shahabat nabi berthawaf mengelilingi ka’bah sambil menggendong ibunya yang sudah tua, ia bertanya kepada Rasul yang mulia, “Sudahkah terbayar lunas semua jerih payah ibuku?” Rasulullah menjawab, “Tidak! Bahkan untuk menandingi rasa sakitnya saat melahirkan engkaupun tak terbayar.”

Anak tidak merasa durhaka, saat-saat ibu merana tinggal sendirian di hari tua dalam rumah kecil, sementara dirinya tinggal di tempat nyaman. Tidak merasa berdosa saat makan lezat penuh gizi sementara ibu makan seadanya. Tidak merasa berdosa demi biaya sekolah anak menghindar membelikan obat ibu yang sedang sakit. Tidak merasa berdosa piknik atau jalan-jalan saat selalu saja ada alas an tidak mengunjungi ibu (atau menziarahi kuburnya bila ibu telah tiada), bahkan berdoa dari jauhpun entah berapa puluh tahun sekali. “Ya Rabb, ampunilah dosa kami dan dosa kedua orangtua kami, dan sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangi kami sewaktu kecil.”

**************

Jangan tanya, apa hubungan legenda laila majnun dengan nasib ibu-ibu yang disia-siakan oleh anaknya sendiri. Saat anak memasuki usia remaja, saat ini, hubungan pergaulan lain jenis yang terjadi seperti menganggap Allah tidak ada, tidak melihat, dan tidak mendengar. Saat berkawan, bercanda, bahkan pacaran dan yang lebih jauh dari itu.

Allah perintahkan dalam Al-Qur’an untuk menundukkan pandangan, mengapa tatap-menatap, pandang-memandang, tanpa sedikitpun rasa takut kepada Allah. Bahkan raba, pegang, cium atau ”Yang tak layak diungkap kata”, pada saat Allah ingatkan jangan dekati zina.

Saat Allah beritahukan berulang-ulang gunakan jilbab, kerudung, hijab, mengapa bukan hanya tak pakai tetapi malah telanjang. Tiada rasa takut kepada Allah, dianggap Allah tidak ada.

Remaja, pergaulan, pacaran dan kerabatnya. Anak-anak yang melakukan itu “berkata” : Engkau wahai bapak ibu yang telah mati-matian merawat dan membesarkanku dengan kasih sayang dan pengorbanan yang tak bisa kubalas…..Engkau akan dimintai pertanggungjawaban dengan tingkah lakuku sebagai anakmu. Kelak engkau akan disiksa karena aku berpacaran di sekolah, di jalan, di taman, di mal, di tempat-tempat tersembunyi……..tanpa sepengetahuanmu.

Berpacaran….tanpa terucap, ”Ayah Ibu……Izinkan Aku Berpacaran……Agar Kelak Allah Menyiksamu.”

Salah…khilaf…dosa, sadari dan mohon Allah ampunkan. Thalaq bain untuk syetan…kembali kepada Allah selamanya. Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang. Mari raih cintanya…

Maroji’ : Mutiara Amaly Volume 33