“Umar bin Abdil Aziz mengatakan: Barangsiapa beribadah pada Allah tanpa ilmu, maka kerusakan yang ditimbulkan lebih besar daripada perbaikan yang dilakukan.”
(Al Amru bil Maruf, Ibnu Taimiyah, 15)

“Al Qodhi mengatakan: Orang yang berilmu dimisalkan dengan bulan dan ahli ibadah dimisalkan dengan bintang karena kesempurnaan ibadah dan cahayanya tidaklah muncul dari ahli ibadah. Sedangkan cahaya orang yang berilmu berpengaruh pada yang lainnya”
(Tuhfatul Ahwadzi, 7/376)

“Ibnu Mas-ud berkata: Rasa takut kepada Allah Ta-ala, sudah cukup dikatakan sebagai ilmu. Anggapan bahwa Allah tidak mengetahui perbuatan seseorang, sudah cukup dikatakan sebagai kebodohan”
(Mushannaf Ibni Abi Syaibah, no. 34532)

“Sanad adalah bagian dari agama. Jika tidak ada sanad, maka orang akan berkata semaunya”
(Muqaddimah Shahih Muslim, 12/1)

“Cukuplah kematian sebagai peringatan (berharga).”
(Al Fudahil bin Iyadh dalam Az Zuhd-Al Baihaqi)

“Kisah-kisah para ulama dan duduk bersama mereka lebih aku sukai daripada menguasai beberapa bab fiqih. Karena dalam kisah mereka diajarkan berbagai adab dan akhlaq luhur mereka.”
(Imam Abu Hanifah)

“Sesungguhnya hati berada di tangan Allah azza wa jalla, Allah yang membolak-balikkannya.”
(HR. Bukhari, dari Abu Musa)

“Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia).”
(QS. Ali Imron: 8)

Akhir perkataan Ibrahim ketika dilemparkan dalam kobaran api adalah “hasbiyallahu wa ni’mal wakil” (Cukuplah Allah sebagai penolong dan sebaik-baik tempat bersandar)”
(HR. Bukhari)