Sebatang lidi seorang diri
Berdiri sunyi ditengah sepi
Hatinya bimbang jiwanya goyah
Jalannya simpang qolbunya gundah

Qolbu ini rindu ketenangan akan kebenaran. Akal ini terus mencari al Haq, terus berselisih dengan kehendak hawa nafsu. Luruh kesedihan-kesedihan saat bertanya pada diri. Yakinkah pada jalanku ini?


Selalu saja ada yang menghalangi kebenaran yang sesekali menyapa, mungkin ia mencoba berkata,”akulah al haq”. Tapi kuabaikan karena aku sombong, aku tak mengenal ilmu, tak mengenal salaf, tak mengenal ulama. Hanya mendengar dia berkata, dan gemuruh yang lain, “Sami’na Wa Atho’na“[1]. Untuk siapa ketaatan ini?


Astagfirulloh, sudah seberapa jauh jiwa ini kehilangan kendali. Yang Haq bercampur dengan yang batil. Buta, buta, buta. “Sesungguhnya bukan mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada.” [2]

[1]. QS An-Nuur 24:51
[2]. QS Al Hajj 22: 46