Di tengah rasa bersalahku yang memcekam geram, memuncak, yang perlahan juga menggerogoti kesehatanku. Kemarin pagi, adalah awal dimulainya kesedihan yang mendalam itu. Aku seperti orang egois yang tak punya hati. Aku adalah orang yang pertama kali bersalah yang menyebabkan kematiannya di lantai dua. Sehari kemarin rasanya aku ga pingin ngapa-ngapain seharian. Aku tak ingin naik sama sekali ke lantai dua, karena hanya akan membuatku semakin menangis disana. Rasa bersalahku membuatku menenggelamkan diri dalam bayang-bayang ketakutan akan kematian Ian. Aku sakit, tapi rasa bersalahku juga belum cepat hilang.

“Ian yang tak pernah berhenti bertasbih itu, sekarang tengah bahagia di surga
“Bagaimana aku mempertanggungjawabkannya kelak”

Dalam tidurku pun, manjadi mimpi terburukku.

Dan pagi tadi, waktu dengan terpaksa aku harus naik ke lantai dua. Aku mendengar suaranya, tapi sebentar dan hilang. Ahh, halusinasi. Tapi aku mendengarnya lagi. Iya, itu iaaan. Alhamdulillah, ian kembali. Aku gak tahan untuk gak nangis.

Tidak di lantai dua lagi dia, yang dingin dan kotor. Dia ada di tempat yang sangat dekat denganku, Wajahnya tiba-tiba membuatku menjadi rindu, setelah dua hari kemarin gak ketemu.

Kupikir ini adalah buah pikiran positif yang kuciptakan sebelum tidur kemarin “besok pasti seneng banget kann, ya kan, ya kan“dan kupaksa aku untuk tersenyum.

Ibroh yang besar.

Sekarang sendi-sendiku sakit, sebenernya dari kemarin, tapi hari ini menjadi semakin sakit. Hari selasa diagnosa lagi, hope everythings gonna be ok. Amiin.

Jam 22.50 Ahad, 17 Oktober 2010
Di tulis di samping iyan yg tengah bernyanyi…*alias teriak minta makan