(10:09 AM 12/29/2010)

“Aku merasa, kak. Aku merasa banget apa yang kakak rasain  sekarang.”.

Suasana tiba-tiba hening.

Pluk. Hanya terdengar suara sisa air menetes ke wadah penampung air yang ditaruh di samping kaki meja. Tangan kanan Iza menggenggam tangan kirinya kuat-kuat, sesekali bergidik. Kedinginan. Dinding tembok rumahnya tak mampu menghalau dinginnya udara itu.  

Ia seharusnya bicara begitu dengan seseorang. Seseorang yang dia harapkan ada di sampingnya sekarang. Tapi dia hanya bicara dengan dirinya sendiri. Dengan perasaannya yang hanya mampu dipahami oleh Allah dan dirinya.

Semua sendiri. Ya, ini sudah sejak enam tahun yang lalu. Owh, bukan, tapi tepatnya sebelas tahun yang lalu. Semenjak kisah kehidupan di negeri entah berantah ini di mulai. Pada awalnya dia benci, tapi akhirnya dia mencintai kehidupannya sejak lima bulan yang lalu dan terlebih seminggu yang lalu. Bayang-bayang masa lalu. Hahaha. Cerita konyol macam apa itu.

Brakkkk. Kaca yang dipakai Iza bercermin jatuh, cerai berai. Beberapa saat kemudian, toples makanan yang baru saja di taruh di meja kamarnya juga menyusul jatuh. Degh. Ada perasaan tidak enak yang tiba-tiba menyelimuti sekelilingnya. Kepalanya pusing mendadak.

(10:43 AM 12/29/2010)

bersambung dengan berselimut kabut.

Apa yang harus kutulis lagi untuk melanjutkan kisah ini.
AKu sendiri bingung.
Mungkin akan aku lanjutkan seminggu lagi,
sebulan lagi, 2 bulan lagi
Setelah bulan mei..
atau setelah bukan oktober…
atau tepat di bulan november…
atau tepat saat aku merasa kisah ini memang layak untuk dilanjutkan.

or you have idea a view second after u read this post?