Bismillah.

Pagi Heboh

Siapa yang seneng kalau pagi harinya diganggu sama suara pintu kosan yang tiba-tiba di buka paksa dan langsung berteriak,”Whoiii, kampus di boikoottt. Gerbang ditutup rapettt. Motorrr gak bisa masukkk. Mau diparkiiirrr dimanaaaa iniii ??? “. Aku yang masih duduk manis di dalam kamar, tersentak kaget lah. Kirain ada maling sendal mana yang baru ketangkeppp. Ehh, ini pagi-pagi udah sibuk parkir motor. Si Vivi langsung keluar,”Haah, masa?!“.Mataku aja ini udah nyuuutttt, dah mau tidoorr lagi. Tapi gagal karena ada lagi yang heboohh ,”Kokkk yang disana pada bawa motor mau kemana emang ?!“. “Hari ini kita post test lhooo“, kata seseorang yang terdengar dari kamarku tapi gak tau siapa. Entahlah mereka entah berangkat kuliah atau lebih milih nyoba-nyoba menyamakan suara turun ke pelataran kampus.

Hari ini (11 Januari 2011) alhamdulillah kuliah libur. Seharusnya pergi ke kampus ini ngerjain tugas Statistik (tapi sepertinya tidak ada harapan).

Perjalanan dengan Ibunya Lisna

Jam 9 aku ke Sukabirus lewat gang Desa ke rumah Lisna, alhamdulillah ada yang nyumbang dana. Jadi, hari ini aku mau nganter ibu bayar uang sekolahnya Lisna ke SMA 1 Dako, di Sukapura.  (Yang mau bantuin lagi, sok hubungi aku yak).

Tiga kali keknya lewat gang Desa yang pertama selisihan. Ibu ke kos aku, aku ke rumah Ibu gak ketemu, aku ke PGA dehh, ehh ketemu Ibu. Okeh bablas. Nah lhoo, lupa kartunya gak dibawa, balik lagi deh ke Sukabirus.

Okeh, karena belum nemu angkot orange yang “langka itu”, akhirnya kita berdua jalan ke arah Sukapura. Nah lhooo, sampe di samping kampus kliatan motor-motor parkir di depan gerbang di jalanan masuk kampus. Entah mereka ngomong apa itu, bendera BEM yang mereka banggakan itu tampak berkibar-kibar, merdeka.

Aku berlalu sama ibu sambil bilang,”Kasihan bu, itu aku yakin mereka pasti kemakan isu, kalo ditanya belum tau juga ngapain mereka ada disitu“. Ibu sambil sambil lihat gerombolan mahasiswa yang berkerumul di depan kampus,”Iya neng” kata Ibu sambil nengok ke arahku sebentar, pandangannya kembali ke mahasiswa yang seru berteriak-teriak tapi sama sekali gak terdengar apa yang mereka orasikan.  “Kayak mereka juga pada banyak yang bolos deh bu, ada yang harusnya kuliah juga dikompor-komporin buat gak masuk kuliah , Amanah orang tua mereka disini kan kuliah ya bu. Yang gak kuliah aja pengen kuliah, kayak Lisna, eh, mereka yang bisa kuliah malah bolos” lanjutku.

Qodarullah, dari kejauhan terlihat angkot orange yang hari ini tampak begitu mempesona (Swuiiiit”). Walhasil sampe SMA Dako untuk bayar SPP. Tapi berita baiknya kami musti olahraga pulang dari sekolah (pulang jalan kaki), dan mampir ke ATM deket kampus.

Sedih, liat mereka pada kumpul-kumpul, teriak-teriak. Ada jaminan bahwa kegiatan massa mereka itu gak akan kedengeran media. Omong kosong. Media itu pancainderanya case sensitive, meski telat dikit toh mereka pada tau juga. (Astagfirullah, gak boleh marah)

Buktinya nongol dua berita di media dengan judul yang spektakuler. Biasalah media tu suka lebay, saking kreatifnya mereka. Pas baca judul beritanya di media massa aja udah bikin mata berkaca-kaca. Wa iyyadzubillah.

Bicara Tentang Kebebasan Berekspresi

Beberapa dari mereka ada yang sangat sangat bangga diri. (Astagfirullah).  Ada yang bilang,”Hari ini saya merasa benar- benar menjadi MAHASISWA..!!“. Mahasiswa yang bilang bayar kuliah mahal, tapi pas jam kuliah malah mejeng di depan kampus, yang kuliah dipengaruhi biar gak kuliah, yang tetep kuliah di obrak-abrik biar gak kuliah. Aku jadi bingung dengan pernyataan orang tersebut. Muncul keheranan yang luar biasa, jadi selama ini seperti itukah cara mereka memandang tentang “mahasiswa” yang sebenarnya???.

Mereka menghentikan perkuliahan. “Gak apa” lah. Sehari untuk perubahan besar ” jawabnya.  Mampu merubah apa dengan gak masuk kuliah? Itukah bagian dari perubahan yang besar? Perubahan seperti apa ?! (biar mereka sendiri yang menjawab). Solusi yang baik itu kan yang menyelesaikan masalah tanpa menimbukan masalah baru,bro. Saya sepakat kalau ada yg bilang ini,”aksiny sangat-sangat  kurang cerdas“. Kalau dipikir”, memang Logis sih.

Aksi Bukan Solusi dari Islam

“Barangsiapa yang hendak menasihati pemerintah dengan suatu perkara maka janganlah ia tampakkan di khalayak ramai. Akan tetapi hendaklah ia mengambil tangan penguasa (raja) dengan empat mata. Jika ia menerima maka itu (yang diinginkan) dan kalau tidak, maka sungguh ia telah menyampaikan nasihat kepadanya. Dosa bagi dia… dan pahala baginya (orang yang menasihati).”

[Hadist SHAHIH-Imam Ahmad, Al Khaitsami dalam Al Majma’ 5/229, Ibnu Abi Ashim dalam As Sunnah 2/522, Abu Nu’aim dalam Ma’rifatus Shahabah 2/121.]

 

Ini hadist shahih(sudah pasti benaar), diriwayatkan Imam Ahmad.

Imam Tirmidzi membawakan sanadnya sampai ke Ziyad bin Kusaib Al Adawi.
Beliau berkata : “Aku di samping Abu Bakrah berada di bawah mimbar Ibnu Amir. Sementara itu Ibnu Amir tengah berkhutbah dengan mengenakan pakaian tipis.
Maka Abu Bilal[3] berkata : “Lihatlah pemimpin kita, dia memakai pakaian orang fasik.

Lantas Abu Bakrah berkata : “Diam kamu! Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda : ‘Barangsiapa yang menghina (merendahkan) penguasa yang ditunjuk Allah di muka bumi maka Allah akan menghinakannya.’ ” (Sunan At Tirmidzi nomor 2224).

Kalau benar mereka Islam, mereka mencintai Allah dan Rasulullah Salallahu ‘alayhi wassalam tentu mereka akan memperhatikan apa yang Rasulullah sampaikan.

Demonstrasi Bukan Metode Salafus Sholih (Pendahulu umat Islam yang Sholeh)
Awas … ! Paham Khawarij Menjangkiti Harakah Islamiyah.

Pesen saya, jadi mahasiswa yg “Solutif”, bisa menyelesaikan masalah tanpa menimbulkan masalah baru.
Jangan jadi mahasiswa yg “Reaktif”, mahasiswa tipe ini biasanya bertindak terlalu cepat, kurang berfikir mendalam(reaktiff… sihh). Mudah ikut-ikutan, cepet termakan isu.

Bukan dengan demonstrasi, bukan dengan membuka aib pemimpin di depan umum.
Islam sangat menjaga kehormatan manusia.
Demonstrasi bentuk tasyabbuh dg orang” kafir. “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka mereka termasuk kaum tersebut.”

Wallahu ta’ala a’lam.
Baraakallahu fiyk.