Telah dibuka pendaftaran calon suami periode 2011/2012.

(Hayooooo siaaapaaa mau daftarrrrr ???? Rizka buka penerimaaannnn ).

Aihhhh…Ling,liiiinggg. Gak boleh kenceeng-kenceenggg. Pelan-pelan ajaaaa . Eh, eh, eh maksud aku, bukan bukan akuuuu eiyyyyy. Kamu jangan bikin propaganda doonggg. Jadi malu kannn.

(Ohhohoho) emangnya daftar PNS pake buka pendaftaran segala. (Ahahayy..gak PNS  aja ternyata yang buka pendaftaran,,,Hehe)

So, tau gak dari mana aku dapet istilah untuk judul di atas? (Dari mana hayooo…Hehehe). Kemarin kan aku searching (mulai currhattt dehh…) trus nemu arsip email judulnya Tes penerimaan calon Istri/Suami tulisan tahun 1999. Tua banget yak tulisannya, panjang pula pembahasannnya.

Inti tulisannya, “Kita perlu untuk melakukan tes untuk mendapatkan suami/ istri sesuai kriteria yang ingin kita dapat, memilih cara yang efektif dan optimal untuk mengetahui ada atau tidaknya kriteria, dan sesegera  mungkin menetapkan keputusan nikah atau tidak dengan pertimbangan yang bijaksana”.

Kita boleh mengetahui lebih lanjut tentang calon pasangan,  ada yang namanya ta’aruf. Tahapan syar’i pernikahan untuk perkenalan antara ikhwan dan akhwat yang hendak menikah.  Rasulullah salallahu ‘alayhi wassalam memerintahkan ini. Dengan ta’aruf ini bisa untuk tau, sikap, perilaku, cara hidup, dan lain-lainya dengan sedeati-detailnya.

Ta’aruf itu harus dijalankan dengan bener.

Okelah mau menguji bagaimana calon pasangannya tapi please pilihlah “cara yang efektif dan optimal” menurut syariat.

Bagian agak akhir catatan tua itu tertulis, “Kalau kita sudah memilih untuk menjadi orang yang beragama, maka konsekuenlah dengan pilihan kita itu dengan menggunakan ajaran agama dalam bertindak, termasuk dalam rangka menguji calon pasangan. Kalau tidak beragama tentu lain lagi bahasannya.  Maka sebelum melangkah, tanyakan dulu kepada hari nurani apakah anda orang yang beragama atau tidak“.

(Weeww….kata-katanya…menusukkkk…)

Tapi bener bangett lhooo. Ngena abiiisss kata-katanya. Saking gregetnya kali ya. Wallahu a’lam. Mungkin si penulis pernah punya temen ikhwan atau akhwat yang sangat giat, rajin berdakwah. Kalau ada urusan perjuangan dakwah selalu ada di barisan terdepan (saking semangatnya). Namun, ketika dihadapkan pada proses atau tahapan dalam pernikahan, tiba-tiba mendadak “hilang ingatan“.  Mendadak Lupa kalau belum menikah itu artinya statusnya masih bukan mahrom.

Dengan seenaknya aja dia pergi-pergi berdua-duaan, liburan bareng. Itukah orang yang setiap hari berteriak,”Tegakkan syariah di muka bumiiii….!!!!!

Mana bisa tegakk di bumi, sedangkan syariah pada dirimu saja belum kautegakkan, ya akhi, ya ukhtii. Tolonglah jangan berbuat seenaknya begitu. Mempermainkan syariat itu namanya. Kalau memang belum mampu menikah sabarlah.  Kalau memang sudah khitbah dan sedang menunggu untuk akad nikah ya makin sabar juga lah. Kan insyaAllah saat itu akan tiba.

Bener deh, kalau ada orang yang seperti itu. Dia wajib bertanya kepada dirinya sendiri (kayak pertanyaan di atas), “Apakah saya termasuk orang yang beragama atau tidak ?” Jika kita konsekuen menyebut diri kita beragama (khususnya agama Islam) , idealnya kita kan (berusaha ) mengikuti petunjuk agama dengan baik dan benar.

Jangan lah pergi-pergi berdua-duaan (yeppp, meski mau jenguk adek yang lagi sakit sekalipun). Kan bukan mahrom, mana boleh liburan berdua ke Bali, apalagi honeymoon II ke Mataram (wakkkwawwww…). Meski udah khitbah sekalipun belum bolehh, brooooo. (yooo’a ). Sabarlah sampai  ijab qobul nikah.

Sekali lagi, mungkin itu bagian perasaan dari penulis catatan tua itu, yang tulisannya barusan aku baca. Yaaa, qodarullah kalau memang cerita itu sama dengan kisah hidupmu sekarang. Yang aku nasihatkan :

Ayolah sama-sama kita untuk saling mengingatkan, untuk terus melakukan perbaikan diri. Yuukkk kita kembali ke tuntunan yang benar. Tidakkan neraka itu begitu mengerikan untukmu? Tidakkah surga itu begitu sangat menggiurkan untukmu agar terus tetap istiqomah berada di jalan yang diridhoi Allah ta’ala.

“Kami ingin kalian masuk jannah, sebagaimana diri kami juga menginginkan untuk diri kami masuk jannah. Kami tidak rela untuk kalian kesesatan,sebagaimana tidak rela untuk kami sendiri

[Ustadz Luqman Ba’abduh]”

Wallahu ta’ala a’lam bissawab

Barakallahu fiyk.

NB : Sedang perlu inspirasi dan ilmu untuk melanjutkan tulisan ini. (Hahaaayyy). Kamu ada ide, bantu aku yaaaa.

Di akhir kisah Ling-Ling, Ling-Lung,” Fah, isu gobalisasi makin kenceng lhoooh “.
Agak bingung, “Lah, kan kita lagi ngomongin proses syar’i ke pernikahan, kok jadi ngomongin ngomongin globalisasi“.
Ling-ling kipasnya mendadak jadi agak kenceng dikit,”Fah, berasa gak, kalo kita ini udah kena dampak yang namanya globalisasi“.
Iya berasa kok, buktinya kamu, leptopku aja yang dari Singapore bisa nyampe ke Indonesia
Nah banyak hal yang terjadi disekitar kita ini adalah hasil dari rantai panjang penjajahan lama yang berlanjut menjadi proses penjajahan gaya baru
Hmmmmm,,,,,(ngangguk”) Seru juga nih. Sepertinya panjang ceritanya. Yaudah diterusin kapan-kapan aja ya, Ling. Kita istirahat dulu.” Suara kipas Ling-Ling kembali normal. “Fyuuuhhh

12:33 PM Bandung, 15 Januari 2011