Jangan berangan-angan untuk mendapatkan bulan, sementara bulan itu memang bukan menyinari dirimu sendiri.
Tapi juga untuk makhluk yang lain di tengah gelapnya malam.
Jangan berharap bulan datang kepelukanmu, sementara kamu tau bulan itu di luar angkasa.
Gak perlu menangis karena bulan itu terlalu jauh letaknya untuk mendengar tangisanmu.
Sudah, menangislah dalam hati saja.
Allaah lebih memahami apa arti tangismu itu.
Lebih-lebih yang kautangisi itu tak mengerti arti tangismu itu.
Dan kamu juga tau, tangismu itu sama sekali tak berguna.

Sabar ya sayang, kali ini apa yang kamu harapkan belum terwujud.
Bila kamu mengalaminya berkali-kali.
Mungkin begitulah takdirmu dituliskan di Lauh Mahfudz.
Bukankan begitu yang kamu yakini selama ini?

Kalau aku tidak melihat tulisanmu itu, mungkin aku tidak begini.
Tapi kamu ditakdirkan Allah untuk melihatnya, sayang.
Dan kamu tau rasanya, bagaimana indahnya kasih sayang Allah.
Allaah lebih menyayangimu dan menarikmu untuk mendekat menuju jannahNya.
Daripada engkau dibuat berjalan seolah-olah maju, padahal kamu berjalan mundur menjauhi jannahNya.

Cinta kepada Allah itu indah, bukan?
Tapi tak semua orang bisa merasakannya.
Mereka memilih untuk mengutamakan cinta kepada manusia.
Karena kalian bukan untuk saling bersama…

Jangan menangis, sayang.
Aku mencintaimu karena Allah.

(Di bawah atap Gd. Sekda, Gedung Sate, Bandung, 11-07-11 1:24 pm)