Bismillaah.

Ke Jalan Caladi dan ke Monumen di Jalan japati ke sononya lagi. Ahey. Tapi sendiri.

Petualangan I : Mencari Caladi dan Ibu Yang Baik Hati

Sebenernya ini bukan petualangan,
tapi aku lebih suka menyebut ini finding unforgetable memories.
Cuma nyari sebuah jalan namanya Caladi. Kata kunci awalnya cuma dua : Jalan Puter Belakang, Deket Masjid Al-Manar.

Jam 17.00 pm. Perjalananku di mulai dari Jalan Diponegoro. Selanjutnya suka-suka saya. Ahaha Ahaha Ahaha.
Dan aku ngrasa kayak anak ilang, jalan ke tengah keramaian kota sendirian. Huhuhuhu. Dan aku merasa asing, mamaaakk.

Ada mbak-mbak lagi melintas dan langsung aku cegat dengan pertanyaan,

Peta Masjid Al Manar

Peta Masjid Al Manar

Mbak, masjid Al Manar di sbelah mana ya?“.

kalau Al Manar saya kurang tau, tapi kalau masjid di sbelah situ ada masjid…“, sambil menunjuk ke arah belakangnya..
Dan aku jalan ke depan sedikit ada masjid, dan catch you setelah di baca di bagian atasnya ada tulisan yang besar bertuliskan Al Manar.
Mbaknya tu udah berapa tahun sih, masjid segede ini, masa ga tau namanya. Mmmmm, orang baru kali ya.

Jalan Caladi

Jalan Caladi

Bener-bener kayak anak ilang. Tebak-tebak berhadiah. Aku jalan aja  terus, belok kanan. Di sebelah kiri ada plang nama jalan warna hijau yang mulai kusan karena karatan.

Kayaknya tulisannya Caladi“, dalam hati.
Untuk meyakinkan aku jalan mendekat.
Yes, I am right.
Tulisannya Caladi. Hahay. Yippy..

Masuk lah ke jalan Caladi ada lapangan…
Mmmm mungkin ini lapangan tenis, futsal, basket… Entahlah.
Lapangannya ga gitu lebar. Dan some minutes later  dapat sms clue berikutnya, yaitu Jalan Caladi Dalam No. XX , warna abu-abu. Aku nanya orang di deket situ. Ok.

Rizka's Map

Rizka's Map

Baru juga masuk gang Caladi Dalam ternyata si ibu tlepon, sengaja we ga di angkat. Lha wong yang nelpon ada  di ujung gang, “Kayaknya mah itu si ibu“, fikirku dari kejauhan.
Ternyata bener kan. Akhirnya aku jalan di belakang, ngikutin langkah kaki ibu itu. Ternyata ga gitu jauh dari masuk gang tadi. Dari depan rumahnya full abu-abu.

Rumah Ibu Yang Baik Hati

Rumah Ibu Yang Baik Hati (Asumsi : Gambarnya bagus)

 

Di depan rumahnya ada etalase kosong yang alih fungsi jadi tempat kertas-kertas.
Ibu gak pake jilbab…” celetuknya tiba-tiba. “Buru-buru aja tadi..
Oooo, hehe…“.
Takut si neng bingung nyarinya“.
Kesehariannya mungkin si ibu berjilbab.

Aku masih terus mengikuti langkah kaki ibu itu masuk ke gerbang rumah dan langsung naik ke lantai dua. Wuaaa… Bagus rumahnya. Ada sofa panjang di tengah-tengah ruangan.
Nama kamu sama kayak nama anak ibu..
O iya kah bu ?
Ibunya baik banget, asyik ngobrolnya, dan nampak ceria. Dari ngobrol hampir setengah jam itu aku tau ternyata ibu itu single fighter, punya tiga orang anak. Nama anak keduanya sama kayak namaku, dan seumuran. Sama-sama kuliah D3. Sama-sama nyusun PA. Bedanya dia Agustus udah mau sidang. Huaaaaaaaaaa. Maaamaaaaaak… (Saya sensitif denger kata dosen pembimbing, bimbingan, proposal, Proyek Akhir, Judul, Sidang, Lulus)

Ibunya tegar banget, banyaaak banget kami cerita-cerita, dari awal dateng sampe ga kerasa adzan Maghrib kedengeran, mungkin dari Masjid Al Manar. Aku suka tempat ini. Aku suka.

Rute Petualangan I

Rute Petualangan I

Sumber Foto : http://aanhendarto.com/bab-tiga/samsung-digital-camera/

Monumen Perjuangan Jawa Barat