Seandainya aku bisa berbuat baik sesuka hatiku, asal menurutku itu “baik” dan memberi kemashlahatan untuk agamaku dan kebaikan semua orang, maka aku akan berbuat sesuka hatiku. Tapi aku tahu, Rabbku telah mengatur kemashlahatanku dan telah menjaga agama ini dengan baik. Dan Allaah Robbul Álamin telah mengutus Rasulullaah Salallahu ‘alayhi wassalam, yang dengan melalui wasilah beliau, aku mendapatkan agama ini dengan terang. Terangnya sungguh jelas, sejelas perbedaan siang dan malam…Alhamdulillaah…

Shahabat Rasulullaah Salallahu ‘alayhi wassalam adalah yang paling dekat dengan Rasulullaah, yang mendapat binaan (tarbiyah) langsung dari Rasulullaah. Mereka mendapat pujian langsung dari Rasulullaah Salallaahu álayhiwassalam dan Allaah Tabaroka Wa Ta’ala.

Ingin banget seperti Shahabat Rasulullaah, yang ketika datang perintah dari Allaah dan Rasulullaah, mereka langsung bergegas memenuhi perintah tersebut. Masyaa Allaah. Luar biasa.
Mereka juga gak banyak bertanya, “Mengapa harus begini? Mengapa harus begitu? “. Mereka juga tidak banyak mengeluh. Subhanallaah, ibadah mereka juga terjaga, mereka khawatir ibadah mereka keliru, makanya mereka banyak bertanya kepada Rasulullaah dan mengambil banyak fawa’id dari Rasululllaah Salallaahu ‘alayhi wassalaam.

Ya Allaah Mendengar kisah-kisah keutamaan-keutamaan para ‘ulama saja, Al Imam Al Bukhori, Fudhail bin Iyadh, Ibnu Katsir, Ibnu Taimiyah rahimahumullaah aku sudah  terpana, membayangkan perjuangan para shohabat. Mmm… Subhanallaah… Di tengah kesyirikan yang merajalela, mereka maju menjadi pembela Rasulullaah Salallahu ‘alayhi wassalam di barisan terdepan. Subhanallaah.

Udah baca belum, bagaimana kuatnya hafalan Al Imam Al-Bukhari rahimahullaah ?
Mmmm… pernah baca kisahnya Fudhail bin Iyadh rahimahullaah dalam menggapai hidayah ?
Kisah kesetiaan Ummu Salamah Radhiyallaahu ‘anha ?
dan banyak lagi kisah-kisah inspiratif yang lainnya…

Karena itu aku berfikir, untuk apa menulis cerita fiksi lagi ? kalau kisah-kisah ulama ahlussunnah tersebut sungguh luar biasa dahsyat penuh semangat…
Jangankan menulis, menyibukkan diri membaca cerita-cerita fiksi aja, aku mau pikir-pikir lagi.
Kalau kisah-kisah yang berasal dari Al-Qur’an dan As-Sunnah saja begitu luar biasa, lalu kenapa menyibukkan diri membaca cerita-cerita fiksi ?

Fiction Stories? No, Thanks

Fiksi adalah cerita fiktif, yang dibuat-buat. Dan lawannya adalah cerita non-fiksi yaitu kisah nyata.

Lalu, kenapa harus menyibukkan diri dengan cerita yang dibuat-buat, padahal banyak kisah nyata yang menggugah semangat dan inspiratif ?
Bukankah juga akan lebih banyak ibroh yang bisa diambil dari cerita yang berasal dari Al-Qur’an dan Assunah ?

Pengen sih nulis cerita fiksi, tapi kalau dipikir-pikir, banyak banget banget banget ibroh yang bisa di ambil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dan itu belum semuanya, jadi pingin sibuk ama kisah-kisah syar’i aja deh.

Lagian, menulis fiksi-fiksi itu kebiasaan orang-orang Syi’ah. Tau kan orang – orang Syi’ah ?
Gak mau banget juga niru-niru kebiasaan mereka. Soalnya inget sabda Rasulullaah Salallaahu ‘alayhi wassalam, “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka“.  [HR. Abu Daawud]

Allaahu Ta’ala A’lam.