Siapa sih yang tidak mau tampil cantik saat Prosesi Pernikahan (Walimah) ? Kamu mau kan ? Makanya banyak orang yang mempersiapkan pakaian pengantin jauh-jauh hari sebelum prosesi itu sendiri, dari desain, model, hiasaan, dan warna. Cantik boleh, tapi bukan untuk di pajang di muka umum lho ya. Hhehe.

Nah, jadi penasaran deh sebenernya para ummahati, dulu pas akad nikah dan walimah pakai pakaian pengantin warna apa ya ?  Modelnya seperti apa  ?
Mau nanya gitu aja juga perlu perjuangan lhoh. Hehhehe. Awalnya malu-malu, padahal sebenernya kepingin tau.  Setelah sehari semalem, akhirnya berani juga bertanya. Fyuh.*Jadi-malu*. Hehehehe…

Ini dia jawaban-jawabannya…

  1. Akhwat :  gamis +jilbab pnjang wrna coklat tua,
    ikhwan : gamis n peci coklat susu + sirwal coklat tua.
    Modelnya sangat-sangat sederhana.
  2. Saat akad abaya putih kombinasi tile yg ada hiasan mawar putih.
    Saat walimah abaya coklat muda jilbab besar coklat tua. Jadi inget masa itu…
  3. Pake baju biru benhur (lbh tua dr biru laut)..trus ada kebaya luarny kain dr perca ukht,dengan sedikit bordir…
    pake krudung biru jg trus slendang panjang n lebar di pake d atas kerudungny. Kainy sama dg kebayanya..
    Alhamdulillah dulu nikahnya sudah di pisah baik tamu dan pengantinnya. PD aja pake baju wrna ngejreng,he2..
  4. Hitam
  5. Pinky
  6. Pink
  7. Coklat tua
  8. Gamis puti tulang ples rompi kain brokat ijo pupus ada payet-payetnya
  9. Putih kombinasi bordir dan brokat, zauji juga pakai putih
  10. Akad kebaya plus pake siger. Walimahan pake abaya warna putih tulang. zaujy pake baju melayu warna hitam.

Jazaakunnaallaahu khairal jazaa’.

Pengantin perempuan (akhwat) yang mengenakan pakaian-pakaian indah tersebut, Apapaun warna pakaian pengantinnya, dengan catatan tidak nampak  di hadapan laki-laki non mahrom (ajnabi).
Jadi hanya di hadapan akhwat-akhwat yang lainnya saja bagaikan seorang RATU a.k.a PRINCESS.

Tidak mutlak musti mengenakan pakaian-pakaian khusus, mewah, berwarna-warni seperti yang dilakuakan kebanyakan orang. Mengeluarkan biaya dalam jumlah yang besar dan tanpa hijab, sehingga kecantikan si perempuan yang seharusnya diperlihatkan hanya untuk suaminya, malah jadi diperlihatkan di hadapan laki-laki yang bukan mahramnya. Wallaahul musta’an.

Ana pernah menghadiri walimah seorang akhwat, masyaaAllaah, sangat sederhana, beliau mengenakan jubah hitam dan jilbab dengan cadar berwarna hitam. Tapi beliau sungguh terlihat sangat  Subhanallaah… Yang terpentng adalah prosesi yang syar’i dalam sebuah pernikahan. Bukan seberapa megah pernikahan tersebut diadakan.

Subhanallaah, semoga pas walimah nanti ana dan akhawati fillaah yang lain bisa sesederhana mungkin melaksanakannya dan prosesnya bisa berjalan sesuai syariat. Aamiin.

Karena apa yang kita harapkan sering kali tidak sesuai dengan apa yang dikehendaki orang tua. Tradisi yang sering dilaksanakan seringkali melanggar syariat Islam yang mulia, seperti tabbaruj (berhias). Pengantin di dandani dengan celak mata, pemerah pipi, dan bibir dan pengantin disuruh duduk di hadapan umum. Wal ‘iyyadzubillah, ana tidak menginginkan yang demikian.

Makanya jauh-jauh hari akhwat yang hendak menikah harus menjelaskan konsep walimah yang syar’i kepada orang tuanya. Agar ketika mendekati hari H, konsep sudah dipahami oleh orang tua. Sehingga memudahkan proses walimahnya.
Insyaa Allaah. Bi idznillaah.

Nah, bagaimana cara menjelaskan konsep walimah yang syar’i kepada orang tua ?
Allaahu a’lam,ana juga bingung. Dan Insyaa Allaahu Ta’ala, nanti ana tulis  di tulisan berikutnya ya. Hehehe…
Soalnya besok mau banyak tanya-tanya lagi ke yang lebih paham, insyaa Allaah.
Karena obatnya orang bodoh adalah dengan bertanya.

Allaahu Ta’ala A’lam.
Barangkali yang disampaikan ‘ilmu ini lebih faqih dari pada yang menyampaikan…
Yang membaca lebih faqih daripada yang menuliskan…

Zadakumullaahu ‘ilman wa hirshon…