Dalam perjalananku malam itu, duduk sepasang suami istri bersama
dengan seorang anak kecil. Bersama senyum ceria dan langkah riangnya
anak kecil itu menuju ke salah satu bangku kosong menandakan keinginan
agar mereka duduk disana. Bergegas mereka duduk tepat di seberang bangku yang aku tempati.

“Hmm, mereka sepertinya keluarga yang bahagia..” Gumamku dalam hati.

Iya, semenjak tamat sekolah dasar, aku tinggal bersama dengan kakak sepupuku. Kerinduanku akan ayah dan ibu tiba-tiba melingkupi hati ini.
Saat itu rasanya seperti ada bagian yang hilang dari jiwa ini.
Dalam keramaian bus malam itu, aku merasa sepi dan sunyi.

Namun dengan melihat wajah ceria sang anak kecil tadi hatiku sedikit terhibur. Air mata yang mulai berlinang tadi seakan kembali masuk, dan lenyaplah kesepian itu.

Sesaat aku melihat ke arah luar kaca jendela yang ada disebelah kiri
bangku yang aku tempati itu dan larut dalam lamunan.

“Seandainya aku bisa merasakan keluarga yang sempurna seperti anak kecil itu, aku pasti tak akan pernah merasa kesepian seperti sekarang. Seandainya saja ayah masih hidup…” Ucapku sambil menikmati pemandangan malam yang memang menarik untukku.

“Astaghfirullah, maafkan hamba Ya Rabb..” Aku tersentak menyesali lamunanku tadi. Karena bagaimanapun ini adalah takdir, Allah sudah menggariskan takdir kepada umatNya.

Ternyata betapa kuatnya mata ini menahan tangis, hatiku tak kuasa untuk menangis. Aku coba untuk menghilangkan perasaan itu dengan coba mengecek pesan singkat ditelepon genggamku. Ternyata tak ada pesan yang masuk.

Sudah hampir tiga puluh menit berlalu, bus ini terasa sepi sekali.
Akhirnya aku coba menghibur diri dengan sesekali memperhatikan anak kecil itu.

“Hmm,ternyata anak itu belum tidur..” Gumamku kembali saat memandangi anak itu.

Sesaat aku mulai merasa ada yang aneh dengan anak itu.
Aku mencoba untuk berpikir tentang sesuatu sembari memandang anak kecil yang ceria itu.

“Mungkin hanya perasaanku saja, tidak ada yang aneh dengan anak itu kok.” Aku coba menghilangkan keganjilan itu.

Sesaat berlalu dan melihat anak itu menunjuk mulutnya berkali-kali,
yang secara umum itu adalah bahasa tubuh jika seseorang ingin makan sesuatu. Sejurus kemudian wanita yang disebelahnya mengambil sebuah kantong plastik yang berisi bekal makanan. Kemudian membuka sebuah toples kue cokelat dan memberikannya kepada sang anak. Aku terus memperhatikan interaksi mereka. Sepertinya ada yang aneh. Perasaan itu muncul kembali.

“Suara, mengapa anak itu tidak bersuara? Apakah ia tunawicara? Apakah ia cacat?” Tanyaku dalam hati.

Aku coba menepis hal itu dan mencoba meyakinkan diriku sendiri jika perasaanku itu salah. Namun sepertinya tidak, beberapa kali aku coba perhatikan ternyata anak itu memang tidak bisa bicara. Melihat keceriaan anak itu hati ini justru tiba-tiba merasa sedih dan pilu.

Sepertinya ironis sekali melihat anak itu, dalam keceriaan dan senyumannya anak itu tak bersuara. Mungkin orang lain akan menyebutnya sebagai anak yang cacat. Tapi bagiku ia tetap anak yang manis, riang dan penuh harapan. Sama seperti anak-anak lainnya.

Walaupun tanpa suara, ia tetap anak kecil yang sempurna.
Orangtuanya pun pasti berpendapat sama denganku.

==##==

Terkadang aku jengah dengan sebutan orang cacat untuk sebagian orang hanya dikarenakan keterbatasan fisik semata. Padahal Allah sudah menciptakan manusia dengan sempurna sesuai dengan fitrahNya.

Mungkin orang cacat bagiku bukan orang yang memiliki kekurangan
dan keterbatasan fisik. Tetapi orang cacat bagiku lebih tepat diperuntukkan pada orang yang tak bertindak sesuai dengan fitrahNya.

Bukan orang tuli ataupun tunarungu yang disebut cacat,
Tetapi orang yang selalu ingin tau keburukan orang lain,
mendengar gunjingan saudaranya sendiri,
menikmati berita keterpurukan musuhnya,

Bukan orang bisu ataupun tunawicara yang disebut cacat,
Tetapi orang yang khianat, pendusta, dan yang menghinakan sesamanya,
menjadi penghasut bagi saudaranya sendiri,

Bukan orang buta ataupun tunanetra yang disebut cacat,
Tetapi orang yang selalu memandang rendah orang lain,
melihat kebathilan namun diam, senang melihat penderitaan orang lain,

Bukan yang sakit jiwa ataupun juga authis yang disebut cacat,
Tetapi para intelektual-intelektual hedon itulah yang pantas disebut cacat,
manusia-manusia yang rakus akan bergelimangnya harta dan menjulangnya kedudukan,
manusia-manusia yang sombong dan angkuh meski merekapun rapuh,
merekalah itulah manusia-manusia cacat,
karena akal dan hati nurani mereka tak dapat digunakan sesuai dengan fitrahNya,

ya..
fitrah seorang manusia diciptakan di bumi ini adalah sebagai khalifah,
pemelihara dan pemberi kedamaian bagi sesamanya,
pengingat dalam kebenaran juga menjadi jalan dakwah,
pemberi keceriaan untuk yang berduka,
penguat harapan untuk yang berputus asa,
pembangkit kekuatan saat saudaranya lemah,

Written by Mohanal Rasyid