Anya melihat jam di hp sekilas. Ini sudah lebih jam delapan. Laptopnya sudah siap di tas dari semalam. Dan sekarang saatnya berangkat. Dari arah kanan, masih dari kejauhan sudah terlihat angkot yang ke arah Daelea. Masuk dengan agak menunduk sedikit. Meski ingat “menunduk”, tapi dia masih sering kebentur bagian atas angkut. Dan bukan cuma sekali. Lumayanlah rasanya. Semoga itu bisa merapikan susunan otaknya yang rada berantakan. (Hehe. Emang bisa ya? *Mikir*)

Di dalam angkot, cuma ada satu orang dan sesekali dia menoleh ke arah Ney. Seperti akan berkata sesuatu. Anya sengaja tidak melihat ke arah orang itu. Sampai orang tersebut mengajak bicara, Masih kuliah ?”. Anya masih tidak menoleh ke arah orang itu, dan menyeolahkan bahwa seolah-olah orang tersebut mengajak bicara orang lain. Dan memilih tetap diam.

Akhirnya Ney turun tangan, dan menjawab sangat ringkas, “Nggak”. Dan berusaha tidak meladeni dengan terus mengajak bicara Anya. Rada aneh juga ya. Mungkin orang itu memang rada-rada (butuh temen. Sepertinya.)

Akhirnya sampai juga di kantor editor. Kali ini masuk ruangan dengan suasana berbeda. Sudah tidak ada semangat lagi. Ternyata disana sudah ada Mey. Dia datang paling awal. Rajin juga ya (kadang-kadang). Mungkin karena “sesuatu”. Dan Che tidak masuk kantor. Mereka dengar Ayah Che terserang sakit jantung.

Selang beberapa saat Pak Is datang. Lengkapnya Pak Ismail. Suasana jadi semakin berbeda dan aneh. Ruangan pun semakin menjadi lengang. Cuma ada suara Pak Is yang terdengar menanyakan pekerjaan kemarin.

Seharusnya hari ini tidak ada yang harus dibicarakan lagi, termasuk masalah pekerjaan.

Mereka masih diam.

Mereka merasa bahwa mereka bukan orang terbaik yang merasa bahwa apa yang mereka kerjakan pantas untuk sebuah penghargaan.

Mereka memang tidak memerlukan itu dan memutuskan untuk pergi dari kota itu hari itu juga.

Merapikan ruangan. Karena ruangan itu mulai besok tidak akan berpenghuni.

Beberapa barang yang mereka punya juga siap untuk dibawa.

Di pinggiran tol. Bis berjejer dan Ney memilih bis dengan AC. Anya mengikuti di belakangnya. Barang bawaan yang terlalu berat, membuatnya tidak protes dengan bis pilihann Ney. Yang penting segera pergi dari kota ini.

Bis langsung berangkat. Selamat tinggal Daelea. Semua berawal disini dan semua kini berakhir.
(6:08 PM Bandung, 7 Oktober 2011. By : ‘Afifah Al Maghtany)


Di kota baru.

Anya
Selamat datang kehidupan baru. Di dalam kamar barunya, Sendiri. Anya terlihat mengetik di laptop. Terkadang air matanya jatuh. Suaranya agak serak dan terkadang batuk-batuk.

Ney
Membongkar barang bawaannya yang lumayan banyak dari Daelea. Dan membereskan beberapa barangnya. ia memutuskan akan pergi ke pulau Wesale, Beberapa pekan lagi,. Ia ingin bertemu dengan orang tuanya.

Mey
Santai. Langsung pulang ke rumah orang tuanya. Mamanya terlihat bahagia karena akan lebih sering melihat anaknya berada di rumah, apalagi akhir-akhir ini beliau sering sakit-sakitan. Mey bisa membantu merawat mamanya.

Che
Kembali ke rutinitas awalnya menjadi asisten dosen. Dan bisa bercanda dengan murid didiknya saat membantu dosen mengajar di kelas. Ia lebih sering tersenyum.