Samakah rasanya bila bertemu orang ceria dibanding dengan orang yang murung? Beda kan? Lebih suka ketemu orang yang selalu ceria atau lebih suka ketemu orang yang murung? Lebih suka ketemu orang ceria kan? kayak aku. Ceria itu pertanda orang menebarkan cinta di sekelilingnya. Dengan bertebarnya cinta akan semakin banyak menyemai kedamaian di bumi.

Hari ini aku belajar bahwa salah satu hal yang membuat orang menerima kita adalah ketika aku bisa menerima seseorang dengan apa adanya dia. Menerima bukan berarti membenarkan kalau misalnya ada seseorang berbuat salah. Tentu kesalahan itu kita ingkari. Tapi kita belajar menghargai sekecil apapun usaha seseorang untuk berbuat baik kita itu adalah sesuatu yang membuat orang respect terhadap apa yang kita lakukan dan iapun tergerak melakukan kebaikan yang sama.

Dan aku sadar, menunjukkan sikap permusuhan bukan jalan terbaik untuk menyelesaikan masalah atau merubah sikap sesorang (misalnya, menjadi baik) terhadap kita. Karena tentu ini menjauhkan kita dari sikap ramah atau sekedar terlihat ramah di hadapan orang lain.

Dengan menebar cinta dimanapun kita berada. Orang akan lebih bisa menerima kita, terutama ketika nasihat yang kita sampaikan.

Seseorang yang salah tidak akan merasa bersalah karena merasa dirinya selalu benar. Seseorang ketika salah, untuk menyadarkannya maka dia harus dibuat merasa bersalah.

Salah satu cara yang salah untuk menunjukkan kesalahan dengan berdebat. Ini semakin membuat orang berkilah dan mencari alasan membenarkan diri sendiri. Dan terus menerus begitu karena logikanya ketika seseorang merasa di serang dia akan membuat pertahanan untuk melindungi diri sendiri.

Karena  tabiat seseorang itu selalu merasa benar, tidak pernah salah, dan tidak mau disalahkan, selalu ingin di puji.

Repot ya, hehe. Dan itulah kita. Memang sebisa mungkin kita menasihati untuk memperbaiki kesalahan seseorang, tanpa menyakiti hatinya.

Banyak cara menasihati dengan sistem empat mata, menasihati dengan keteladanan, dan banyak lagi cara menasihati yang diajarkan Rasulullaah  Salallaahu ‘alayhi wassalam.

Dan cara yang terbaik setelah ikhtiar itu adalah dengan mendo’akannya. Terutama untuk emak-emak musti sabar, sabaaaar, dan saaabbaaar ngedepin anak-anaknya.

Kita memang harus saling mengingatkan, memperbaiki diri, kita kembali kepada tuntunan yang benar. Insyaa Allaah. Dengan salah satu alasannya adalah seperti di bawah ini :

Kami ingin kalian masuk jannah, sebagaimana diri kami juga menginginkan untuk diri kami masuk jannah. Kami tidak rela untuk kalian kesesatan,sebagaimana tidak rela untuk kami sendiri. [Ustadz Luqman Ba’abduh] 

Apapun yang anda pikirkan, ini sekedar sharing saja. I am not actually an expert in this case. Semoga kita menjadi manusia penebar cinta agar  semakin banyak menyemai kedamaian di bumi.