Pelan-pelan, bu“, kata Ummu Nafisah yang lagi duduk di sebelahku. Kemudian masuklah ibu-ibu yang tengah meggendong anak kecil dengan jaket berkupluk warna biru muda. Usia sekitar tiga empat tahun.

Aku dan Ummu Nafisah waktu itu sedang di mobil (umum) perjalanan berangkat menuju ke Al Ukhuwah. Qodarullaah,ada  ibu-ibu yang menggendong anak, kesusahan waktu masuk mobil (umum), jadi Ummu Nafisah menolong beliau. Lalu menyalami ibu tersebut dan bertanya, “Lagi sakit anaknya ya bu“.

Iya habis dioperasi“, jawab ibu itu terasa tegar dan aku bengong.
Sakit apa bu?” tanya Ummu Nafisah lagi.
Ini tempurungnya kepalanya pecah…”.
Haaaahhhh? Pecah? Tingkat bengongku pun meningkat jadi dua kali lipat. Is it real? yaa Allaah... Tempurung kepalanya pecah? Anak sekecil itu. Pandanganku ga beralih dari wajah ibu itu dan kepala anaknya yang digendongannya. Aku sama sekali gak tergerak untuk bertanya apa-apa. Aku bener-bener bengong tingkat tinggi, saking antara percaya dan gak percaya dengan beliau sampaikan.

Akhirnya ada orang lain yang menyambung bertanya, “Pecah kenapa, bu?“.
Aku bener-bener menyimak jawaban ibu itu.
Ini jatuh dari Sepeda“. Jatuh dari sepeda? Sampai tempurung kepalanya pecah?
Jatuh waktu dibonceng ayahnya.” lanjutnya. “Owh sepeda kayuh mungkin”, pikirku.
Cuma ini yang selamat“, sembari melihat wajah anaknya yang sedang pulas tidur dalam gendongannya. Dari sini aku jadi semakin bertanya-tanya. Menunggu penjelasan selanjutnya.
Ayah dan kakaknya udah gak ada“, jelas ibu itu sambil menahan tangis, berusaha tegar, dan terasa berdesir dalam qolbuku.
Dalam hati, aku bertanya-tanya, “Hah? Gak ada? meninggal?“. Mungkin yang dimaksud sepeda itu adalah sepeda motor.

Terdengar Ummu Nafisah mengucap, “Inna lillaahi wa inna ilayhi rooji’un”. Iya, akhirnya aku tersadar. Aku terhenyak dan segera mengikuti ucapan istirja’. Yah, suasana keluarga mereka sudah berbeda sekarang. Allaah dengan ‘kun fayakun‘, telah menentukkan kehendaknya. Qodarullaahu wa maasyaa’a fa’al.

Begitu berat, jika kita harus diposisikan sebagai ibu itu.
Seorang ibu kehilangan anak dan seorang istri kehilangan suaminya. Fyuh.
Rasanya aku ingin menangis seketika saat itu.
Ibu-ibu itu berhenti bercerita, sesekali menahan tangis sambil menatap buah hatinya.
dan orang-orang di mobil umum ini sudah berhenti bertanya.

Pandanganku belum lepas memandangi  ibu dan anak itu.
Suasana di mobil umum berubah jadi hening.
Semua terdiam.

Yaa Allaah…

(Sabtu, 7 januari 2012)

– – — – – – – — – – — – — – – – — – — — – – – – – – – — — – – – – –

Begitu beratnya ujian yang kita hadapi, jangan membuat kita putus asa.
Semoga istiqomah,
Semoga Allaah menjaga kita di atas Islam, Sunnah, dan ibadah hanya kepada Allaah… 

-al fawa’id Ustadz Sofyan-