Aku alay, kamu alay, semuaaaaa pun akan jadi alay. Tapi, Haruskah Aku Menjadi Alay? ::galau: Sadar atau tidak sadar, kenapa hampir semua orang harus mengalami fase hidup sebagai orang alay. Kenapa harus alay? Kenapaa. Kenapaaaaa..*menggaung versi alay*.

Tahun lalu, aku menemukan fakta kakakku udah bisa fesbukan. Dia udah bisa confirm friend request, udah bisa bikin status, udah bisa komen-komenan, udah bisa like-like status. Owh pinternya, udah bisa mainan inet n’ fesbukan.

Tapi tahun ini, tragisnya dia mulai udah kenal pacaran. Pasang foto pacarnya di profil picturenya. Yaampun, kak..kak. Kemana emakmu, kak. HPnya pun canggih, pake Blackberry, pake ipad, entah apalagi. Status-statusn ya alay, komen-komennya alay.

Nama-namanya alay. Namanya ALVIN di fbnya berubah jadi ARVIND. Entah dia pakai koversi huruf alay yang mana. _- bingung saia. Tulisannya besar-kecil, plus ditambahin huruf-huruf yang gak penting untuknya ada di kata tersebut. Liatnya pusing, apalagi bacanya. Aku mencoba untuk posting di wallnya pakai bahasa sebagaimana manusia semestinya, tapi dia ga bbaless. Karena aku kangen ama dia, jadi aku coba lagi komen di statusnya, dia juga ga balesss. Aku dicuekin ala ayam goreng garing. *sebel*.

Akhirnya aku coba komen di statusnya dengan bahasa sebagaimana mereka (alay). Alhamdulillaah ada yang respon, tapi dari temennya. _- *terharu*.
Tapi kenapa aku harus alay?  Haruskah Aku Menjadi Alay? Ahh sebellll. Tapi gimana ya.

Hiks, kakakku. Tapi bagiku kamu masih kakakku yang kecil.
Yang suka mainan bareng, jalan-jalan bareng, ke masjid bareng.
Ternyata itu sudah jauh bertahun-tahun yang lalu.
Dan sekarang pergaulan telah mengubahmu begitu.
Rasanya kamu bukan yang dulu.

:sedihnya:

Yang membuatku sadar, adekku juga disana. Mungkin tak jauh beda, karena kakakku dan adekku temenan. Aku, kakak, dan adek adalah temna baik.

Hiks. Semoga Allaah menjaga mereka dengan sebaik-baik penjagaan, memberikan petunjuk dan hidayah. Hidayah ilmu dan hidayah amalah. Allaahumma Aamiin.

Loving you, dear.