About Us

Perasaan perempuan? Cek ileh. Ngomong apaan sih aku. Tapi ini beneran tentang perasaan perempuan yang mungkin banyak dirasakan perempuan di  luar sana. Lagi-lagi mungkin. Efek sok tau nih. Hehe.

Dari kemarin suasana rumah udah berasa beda. Tumben. Pagi ini mbak Seli belum bangun. Biasanya udah mandi dan ngibrit lari keluar rumah buru-buru berangkat ngantor. Tapi hari ini cuma kedengeran suara batuknya, pertanda dia lagi sakit.

Lagi sakit Mbak Sel? Udah minum obat belum mbak? Aku ada nih obat“, tanyaku.
Makasi Rizka, aku udah beli obat kemarin“, jawabnya kayak orang kedinginan.

Beberapa menit kemudian, disaat aku asyik sama kerjaanku sebagai anak muda, yaitu hunting desain. Sebuah kerjaan yg menyakitkan hati, karena harga desainnya mahal sekali (curcol kan..). Tiba-tiba aku denger Mba Sel marah-marah. Aku kaget. Aku pikir kenapa. Ternyata lagi angkat telfon, tapi sambil marah-marah dan terus begitu sampe beberapa jam. Kayaknya lagi berantem. Mungkin sebentar lagi selesai.

Aku masih chatting, hunting-hunting desain, dan gambar di deviantArt.
Lama juga berantemnya, gambarku udah selesai dua buah. Gak lama kemudian, aku denger mbak Sel nangis. Kedengeran suaranya dari kamarku. Makin lama makin kenceng. Waduh.

Sedih banget… Mba Sel ampe teriak-teriak, “Kamu gak udah jenguk aku, kalo kamu ngajak dia. Sakit banget gue diginiin. sakit banget…“, sambil nangis. Kata-kata perempuan yang sakit hati karena cemburu karena laki-laki yang gak pernah mengerti perasaannya. Sakiittttt.

Teriakannya makin lama juga makin kenceng, “Sakit gue.. Lo ngerti gak sih!!!.“, sambil terus nangis.

Aku sebagai seorang perempuan, aku jadi ikutan ngrasa sedih juga. Tega banget ampe nyakitin perempuan baik kayak mba Sel. Aku tinggalin orang-orang yg lagi ngajak chatting, bodo amat. Aku lari ke belakang. Aku lihat mbak Sel duduk meringkuk di belakang rumah. Sesenggukan nangis.

Aku langsung peluk mbak nya, “Mbak Sel…..“. Dia masih nangis.
Sakit Riz….“, katanya berbisik dan terus nangis sesenggukan.

Lumayan lama aku temenin mbak Sel.
Sakit… Iyalah sakit. Perempuan mana yang gak sakit hati kalau dikecewain orang yang dicintai. Orang yang sudah dipercaya menjadi separuh jiwanya, berjanji untuk setia dalam ikrar suci sebagai ikatan tanda cinta. Tapi begitu yang dialami mbak Sel. Pasti sedih banget.

Aku melihat kehidupan rumah tangga dari sisi berbeda. Terlalu sering mendengarkan dari sisi romantika dan jarang melihat sisi rivalika (apalagi ini _-‘). Rival is musuh. Rivalika is sisi permusuhan. hehe. Understand?!

Pengen bilang ke mbak Seli, mbak Seli gak usah kerja lagi aja. Di rumah aja. Kasihan anaknya masih kecil. Unyu-unyu. Pengen bilang. Tapi mungkin ga bisa sekarang-sekarang. Suasana masih chaos. Semoga Allaah memunjukkan jalan yang terbaik untukmu mbak Seli. Allaahumma Aamiin.

Ya begitulah. Jadi inget ada yang bilang, tiap rumah tangga itu unik (Ihiy). Selalu berbeda antara kehidupan rumah tangga yang satu dengan yang lainnya. Dalam mengelola keuangan, mengurus pendidikan anak, entah apa lagi.

Tapi yang paling baik, insyaa Allaah yang berjalan di atas jalan ‘ilmu Allaah Ta’ala, seperti yang di ajarkan Rasulullaah Salallaahu ‘alayhi wassalam. Banyak kok kajiannya kalau mau menyimak . Rekaman kajiannnya juga ada, dan bisa di hunting di ilmoe.com, ada kajian khusus tentang keluarga melingkupi kajian seputar pendidikan anak, keluarga sakinah, dan masih banyak lagi yang lain. Buat yang suka baca banyak artikel yang bisa dibaca di akhwat.web.id

Bila sudah berilmu kita menjadi terbimbing. Ketenangan itu seperti buah dari ‘ilmu. Kita merasa jadi lebih bahagia karena ada syari’at yang menuntun di setiap langkah kehidupan kita.

Tapi lagi-lagi jangan berharap tentang kesempurnaan. Berilmu juga bukan jaminan seseorang bebas dari kesalahan. Begitulah kata ibuk-ibuk yang sudah berpengalaman, insyaa Allaah. Kata terakhirnya, “Iyalah… karena suami kita kan bukan nabi. Kalau ingin suami kita seperti Rasulullaah Salallaahu ‘alayhiwassalam, kita juga harus bisa seperti ummahatul mukminin ‘Aisyah, Ummu Salamah, Khadijah Radhiyallaahu ‘anha ajma’in. Sanggup gak kita?“.

Orang yang berilmu tentu berbeda dengan orang yang tidak berilmu.
Dari shalatnya beda, cara bicaranya, cara berfikirnya, cara mengambil pertimbangan, cara bermuamalah, cara melihat kesalahan orang lan, cara memperlakukan orang lain juga beda, dan masih banyak yang lain.

Itu melihat perbedaan itu semua, kita harus melihatnya dengan ‘ilmu.
karena tidak akan mungkin kan kita melihat  ‘ilmu sementara kita kosong ‘ilmu.
Apa yang mau kita lihat…
Jadi, teruslah belajar. Kita melihat  kehidupan dengan ‘ilmu syar’i.
‘Ilmu syar’i, yang datang dari Allaah Ta’ala dan Rasulullaah Sallaahu’alayhi wassalam, sebagaimana yang dipahami para shahabat Radhiyallaahu ‘anhuma ajma’in.

– – – – – – – – – – – – — – – – — – – – – — – – — – – — – – – – – — – – – – – – – – – – – — — – – – –
Aku ingin menggenggam tanganmu di padang ilalang tepi sungai Barito sambil melihat matahari terbit…

-end-