We

Pada malam-malam aku memohon perlindunganNya. kepada Pemilik semesta, Pemilikhatiku. Sejak saat itu aku memohon perlindunganNya, kepada Pemilik Semesta, Pemilik hatiku. Aku memohon perlindungan untuk hatiku, yang bukan milikku, aku meminta perlindungan hatiku yang berada di GenggamanNya.

Aku memohon, agar hati yang dititipkan-Nya kepadaku dibekukan, dibutakan, ditulikan dari fitrah yang tidak seharusnya, dari cinta yang sia-sia, cinta yang mubadzir, aku memohon agar hanya diberi jatuh cinta kepada seseorang yang kelak akan menjadi suamiku.

Aku tidak meminta perlindungan dari rasa sakit di hati, aku hanya meminta perlindungan agar tidak diberi salah jatuh cinta, aku memohon terus semenjak malam itu.

Lalu, aku jatuh cinta.

Pada sebuah nama yang sulit aku sebut, hingga harus aku berlatih berulang-ulang, pada sosok yang berulang kali tanpa ia inginkan menggoreskan warna-warni dalam hatiku, pada malam yang mempersembahkanku bintang-bintang.

Aku hanya tau ini sepenggal perjalanan yang musti kita lewati. Di mana akan ada ruang rindu dan cinta bisa menggema sempurna. Yang aku tahu kita sedang kesana. Kita susun penggalan menjadi bilik di sudut hati kita.

Waktu akan menunggu. Aku dan kamu. Bertemu. Tak perlu kita berlari. Tak perlu menyegerakan detik.Hanya do’a yang dipacu. Agar waktu bisa menunggu. Hanya untuk kamu dan aku. Bersama melaju. Tak ada ragu. Ucapkan rindu.

(Habibatun Naim-dengan perubahan seperlunya.)

– – — – – — – — – – – – – – — – – – — – – — – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – — – – – – – – — – –

Baraakallaahu laka, wabaraka ‘alayka wa jama’a bayna kuma fiy khair.