help me, please...

Bagaimana kalo rindu ini sudah tak tertahankan, mak?“, tanyaku pada emak lewat angin yang bergerak-gerak liar. Dingin. Lembut. Menggelayut.  “Aku sakit, mak“, Bagaimana bisa aku bertahan selama ini seorang diri? “Aku jatuh, mak. Tersungkur seorang diri“, harus pada siapa lagi aku harus bersandar. “Aku lelah, mak“. Lalu, aku harus bagaimana?

Suaramu sudah terdengar sayup-sayup“. Menyusuri jalan yang entah dimana ujungnya ini. “Aku tertatih mak“.  Mengulang-ulang kata layaknya anak-anak belajar menghafal pelajaran, astaghfirullaahal’adzhiim. Berulang-ulang. Aku terjebak pada ingatan-ingatan yang menyedihkan, bahkan pada ingatan yang menyenangkan sekalipun. Aku hanya ingin, tidak merasa sesak lagi.

– – – – – – – – – – – – – – – – – – –

Seperti terjebak di akuarium empat sisi. Seperti bunga di dalam rumah kaca, tidak berbunga, tidak berkembang, dan tidak indah. (Matikan lampu. “Maafkan anakmu ini ya mak“)