Kata safar itu mengingatkan aku tentang seorang akhawat yang memelukku sambil membisikkan do’a :

“Astawdi’ulllaaha diinak amaanatak wa khawaatiima ‘amalik…”. Saat itu juga aku ingin menangis tapi di tahan dan rasanya ga mau pergi.. ‘( Sedih deh. Seorang akhawat yang  ternyata usianya masih 15 tahun. Seorang akhawat yang insyaa Allaah jamilah ash-shaliihah dan juga ustadzah di sebuah Ma’had. Masyaa Allaah. 

Begitu kali ya, kalau anak dibesarkan dalam didikan di sebuah keluarga yang insyaa Allaah faham agama. Beda jauh kalau dibandingkan dengan akhawat lain yang seumuran tapi ga dididik ilmu oleh orang tuanya. Beda kan ya? Jelas beda kan antara orang berilmu dibanding orang yang belum memiliki ilmu.

Tutur kata, tutur bahasa akhawat 15 tahun itu lemah lembut banget. Sopan, dan beda lah.. Jauhnya kalau dibanding aku yang masih baru sedikit kali bermajelis ilmu. Seperti menemukan sosok bidadari dunia yang ketika memandangnya mengingatkan aku kepada Surga..)’ Dia sesosok akhawat yang telah komplit menemukan jati dirinya. Tenang dan damai.

Yah, kayaknya bermajelis ilmu, dateng ke tempat taklim itu salah satu cara untuk mencari jati diri. Karena di majelislah kita mempelajari Al Qur’an. Daalam Al Qur’an kita diajarkan bagaimana cara bermuamalah dengan Allaah, Rasulullaah, Shahabat, orang tua, dan saudara muslim. Sampai kepada orang kuffar pun ada tata caranya sendiri. Masyaa Allaah ya. Al-Qur’an is a complete  system of  life.