Haruslah Ananda bersifat qana’ah, menerima apa adanya dan merasa cukup, mendengar dan taat kepada suamimu.

Jagalah kehormatan dirimu dan harta suamimu. Bantulah dia dalam pekerjaannya.

Lakukan apa yang membuatnya senang, jaga rahasianya dan jangan Ananda langgar perintahnya. Tutuplah kekurangannya. Jaga lisanmu.

Perhatikan tetanggamu dan tetaplah kokoh dalam keimananmu

Wahai putriku! Engkau akan menghadapi kehidupan yang baru. Kehidupan yang di dalamnya tidak ada tempat bagi ibumu, ayahmu, atau seorang pun dari saudara-saudaramu.

Engkau akan menjadi teman bagi seorang lelaki yang dia tidak ingin ada seorang pun menyertainya dalam memilikimu, sampai pun itu daging dan darahmu. Jadilah dirimu, wahai putriku, sebagai istri (yang baik) baginya dan jadilah engkau ibu baginya.

Jadikanlah dia merasa bahwa engkau adalah segalanya dalam hidupnya dan segalanya bagi dunianya.

Ingatlah selalu bahwa lelaki itu, siapa pun dia, sebenarnya adalah anak kecil yang sudah besar sehingga sedikit saja kata yang manis sudah membuatnya senang.

Jangan sampai engkau membuat dia merasa bahwa pernikahannya denganmu telah menghalangimu dari keluargamu dan kerabatmu. Sungguh, perasaan demikian terkadang menyergapnya.

Dia juga harus meninggalkan rumah kedua orang tuanya dan meninggalkan keluarganya karena dirimu. Hanya saja, perbedaan antara engkau dan dia adalah perbedaan antara perempuan dan lelaki.

Perempuan selalu merindukan keluarganya, rumahnya tempat dia dilahirkan, tumbuh dan besar, dan tempat dia belajar banyak hal.

Akan tetapi, mau tidak mau dia memang harus membiasakan dirinya dengan kehidupan yang baru. Dia harus membentuk kehidupannya yang baru bersama seorang lelaki yang telah menjadi suaminya, menjadi seorang pemimpinnya dan ayah bagi anak-anaknya kelak.

Inilah duniamu yang baru.

Wahai putriku, inilah yang akan engkau hadapi sekarang. Inilah masa depanmu. Inilah keluargamu yang akan menyertai kalian berdua—engkau dan suamimu—dalam membentuk kehidupan barumu.

Adapun ayah dan ibumu, keduanya adalah masa lalumu. Ibu tidak bermaksud memintamu untuk melupakan ayah, ibu, dan saudara-saudaramu, karena mereka sendiri selamanya tidak mungkin melupakanmu, wahai sayangku!

Bagaimana mungkin seorang ibu bisa melupakan buah hati, belahan jiwanya? Akan tetapi, yang ibu minta darimu, cintailah suamimu, hiduplah menyertainya, dan berbahagialah dengan kehidupanmu bersamanya.”

Nasihat Ummu Mu’ashirah kepada putrinya sebelum pernikahan sang putri. dalam kitab Tuhfatul ‘Arus karya Mahmud Mahdi al-Istambuli (hlm. 85—86).