Nak…

Siang ini
ku berjalan mengelilingi sudut kota
metro mini yang kutumpangi dicegat segerombolan anak kecil..
ya.. “Anak kecil” kawan..
masih “Anak-Anak”..

bergerombol tertawa sambil berbinncang..

Aku terkejut…

Nak…
Segitu hinakah teman-temanmu
sehingga kau memanggilnya
“Anjing”
sudah lupakan kan Nak
bahasa ibu yang lemah lembut
sudah tak berbekaskan Nak
bahasa ayah yang tegas nan sopan
entahlah..

Namun..
aku tambah terkejut lagi..
Asap mengepul dari mulut mereka..
dan Oh.. ini bukan kebakakaran kawan..
mereka dengan canggung menjepit sebatang rokok di sela jari mungilnya..
Ya ampun Nak..
Sekeras itukah usahamu untuk terlihat lebih “Keren”
Sehingga kau rela di usia semuda ini mencoba “Bunuh Diri”
Ya BUNUH DIRI Nak..
Tak tahukan kau, setiap hisapan rokokmu itu adalah racun yang kam membunuhmi kelak

Nak..
Sebegitu jahatnya kah orang tuamu
Sehingga kau tega mengerogoti mimpi-mimpinya?
mengikis habis kebanggaan akanmu di kala kau lahir?

Nak..
Sungguh kau masih “Anak-anak”
usiamu tak akan lebih dari 10-12 tahun
sekolahmu tak akan lebih dari kelas 1 SMP

Maka Nak..
berhentilah untuk mencoba “dewasa”..
berhentilah untuk terlihat “keren”
tentu dewasa dan keren yang ada di otakmu Nak..

Karena dirimu kelak Nak

Pondasinya sedang kau bangun hari ini..
Saat ini..
Saat seusiamu Nak..

Sumber : FLP