Mainstreamnya, kita kalau punya temen ikhwan punya usaha/bisnis rata2 pada minta “harga temen” / “harga ikhwan”.

Kalau menurut saya sih, mbok kita ini membiasakan diri dengan “harga profesional” gitu lho.

Justru karena kita punya temen yg punya usaha, harusnya kita sebagai temen bisa lebih “menghargai profesi” teman kita tersebut, bukannya malah nawar harga mati2an sampai temen kita sendiri hanya bisa dapat laba sedikit.

Paling tidak, dikit2 kita bisa membantu menumbuhkan roda perekonomian kaum muslimin lah.

Beda kasus, kalau si temen ini dengan sukarela ngasih harga istimewa pada kita, ya itu alhamdulillaah.

Saya punya video dokumenter ttg kehidupan orang2 kaya di Barat. Salah satu yg disorot adalah bandar judi di Las Vegas. Si bandar ini, kalau beli barang sangat pantang / gengsi untuk tanya: “Ini harganya berapa?”. Baginya, yg namanya laki2 “keren” itu tak pernah tanya harga pada barang berkualitas yang akan dibelinya.

Si Bandar itu jelas tidak bisa kita jadikan teladan. Tapi, paling tidak kita bisa membandingkan standar “keren” antara orang indonesia & orang barat tsb.

Dalam kasus di “kita”, sebagai muslim tentu kita dilarang berbangga2an dengan harta untuk sekadar disebut “keren”. Tapi, bagi saya: cukuplah seorang laki-laki itu disebut “keren” ketika ia bisa “menghargai profesi” saudaranya sesama muslim.

Dan “kadang”, salah satu bentuk penghargaan terhadap profesi seseorang, adalah dengan tidak menawar barang yang akan kita beli dari orang tsb. Ini -menurut saya- baru “keren”

Via Bintu Zainal As Salafy
via kronologi @yaGinanjar Indrajati Bintoro

– – – – – – – –

Sebagai calon mantu teladan tingkat kecamatan, akhir² ini sy kurang bisa juga nawar harga yg dikasih penjual. Mungkin ini pertanda sy sudah mulai belajar “menghargai profesi”. ^^/

Sy baru tau hari ini ada istilah  “Menghargai Profesi”. But it true mu mates. Yg paham masalah bisnis pasti tau klo cash flow bisnis hrs lancar tanpa hambatan kalo ngga lancar bisa kena kena stroke. ^^ Apalagi klo dh berkaryawan.. Dizzy dizzy deh. Artinya pusing pusing lah ikam